Rabu, 22 April 2015

Suku Baduy

Baduy, siapa yang tak pernah mendengar nama suku ini. Suku baduy adalah suku yang berasal dari kota saya, yaitu Lebak, Banten. Saya bangga menjadi warga kab. Lebak. Hal yang paling sering didengar dari Lebak adalah warga miskin dan jalanan yang rusak, ini memang tidak salah di lebak masih banyak sekali warga yang tergolong kurang mampu dan akses jalan yang rusak, bahkan rusak parah. Tapi masih banyak yang bisa dibanggakan dari Lebak, salah satunya adalah Suku Baduy.
Warga suku Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Sedangkan rumah saya sendiri berada di kec. Malingping yang jaraknya bisa ditempuh sekitar 3-4 jam menggunakan roda empat. Sebenarnya jarak Malingping-Rangkasbitung bisa ditenpuh 2 jam saja. Tapi inilah faktanya, jalanan yang rusak sangat menghambat perjalanan.


Bahasa yang digunakan oleh warga Baduy adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Mereka berbicara bahasa sunda hanya dengan orang-orang yang mengerti saja, apabila ada yang mengajak mereka berbicara dengan bahasa Indonesia. Warga Baduy sendiri bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

Disini saya akan berbagi pengalaman saya ketika studytour ke Baduy sewaktu saya masih duduk dikelas 2 SMP. Saya pergi dari kota Rangkasbitung sekitar pukul 5 pagi dan sampai di Baduy sekitar pukul 7 pagi. Saya berangkat menggunakan bus, tepatnya 3 rombongan bus. Baduy dalam tidak bisa ditempuh menggunakan mobil di parker di luar tepatnya di dekat tugu selamat datang di Baduy. Dari sana kami berjalan sampai ketujuan kami. Sepanjang perjalanan hanya ada jalan setapak. Dan dipinggir jalan itu awalnya banyak rumah rumah warga.

Tapi semakin kita jauh berjalan yang kita lihat hanya pohon-pohon yang lebat, diperjalanan saya dikagetkan oleh 2 anak kecil yang sedang membawa 6 durian dengan cara dipanggul. Begitu kuatnya anak-anak itu. Saya saja merasa tidak sanggup untuk membawa sekiranya 2/3 buah. Diperjalanan saya banyak melihat para wanita membuat kerajinan. Tapi dengan fasilitas yang seadanya. 


Tapi perjalanan kami berkhir ketika sampai di jembatan ini.

karna kami tidak bisa masuk ke Baduy dalam karna kami tidak bersama sesepuh warga baduy sana, karena tidak semua orang bisa keluar masuk Baduy dalam. Dan setelah kami menghabiskan waktu bermain di sungai bawah jembatan kami pun pulang kembali ke bus dan membeli oleh-oleh disekitar sana dan setelah itu kami pulang. Itu sekitar pukul 5 sore.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar